In KAFETARIA SAJAK

Krintji - Aku (Simu) | Coffee Shop di Blok M - Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

Reaksi fermentasi ciptakan rasa buah

Tanah basah timbulkan wangi rempah

Berjalan penuh gairah dari hal-hal terencana

Tapak-tapak darah berkelahi dalam dilema


Di satu sudut kota

Mengalahkan segala gulana

Wajah-wajah bahagia disana

Cerita luka-luka tertawa


Ada yang tercampak ke bumi

Sekepal tanah surga yang menguras emosi

Toraja? Kintamani?

Krintji.


Perjalanan panjang

Dari terik matahari yang kian meninggi

Sampai temaram lampu jalan menerangi

Dari proses pertama lalu greenbean dihasilkan

Sampai hasil racik disajikan


Bau harum kopi yang baru dipanggang

Atoma menenangkan berlalu lalang

Menemani cengkrama dengan diri sendiri

Gelas-gelas kopi berganti

Segala yang harus direlakan pergi


Krintji merupakan salah satu tempat ngopi rekomendasi versi aku. Berada di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Coffee shop kian menjamur, nama-nama yang menarik membuat aku tergerak untuk menuangkan kata. Memperkaya karya melalui konten "Me, Words, and Coffee Shop." - yang akan aku kembangkan, kesamaan nama-judul tidak terkait kerjasama.

Seringkali kopi dikaitkan dengan kata.

Nantikan coffee shop berikutnya.



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Narrative

Januari 2021 (Tak Apa, Lagi)

 



Januari,

Aku sedang berusaha

Saat kamu menghentikan.


Aku mencoba kembali

Kamu menghalanginya lagi?


Mendorong.


Menekan.


Menenggelamkan.


Aku mundur.

Tapi setelah itu aku pergi.

Mencari jalan lain.


Januari,

mari kita awali....

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In KAFETARIA SAJAK

MASALALU - Aku (Simu) | Coffee Shop di Pekayon Bekasi, Tebet, Rawa Domba, Petukangan, Cimahi, Bandung

Perihal yang datang dengan tujuan,

yang menetap dengan kesan,

lalu pergi tanpa alasan


Kenangan datang tiba-tiba

Kadang rasanya ingin punya amnesia,

untuk bisa melupakan semua

Tapi sadar, pengalaman justru menjadi sumber daya

Banyak yang memberi makna dari luka

Hal tabu justru terasa istimewa


Dimana aku berdiri

Ditempat yang aku singgahi

Cerita yang pernah dirajut kutemui

Bergumul dengan kata-kata

Bercerita tentang masa


Hari ini, tepat pada tanggal kapan aku dilahirkan

Berlatarbelakang kelam

Aku merenung tentang sebuah catatan

Banyak yang kulalui dengan terjang

Tak sedikit yang berlalu dengan kesunyian

Mengulang bagian-bagian yang tak diinginkan

Luka-luka besar dari hal-hal kecil

Kembali,

Melukai benak dan hati


Mudah saja? Pilih menetap atau menatap

Pusaka rasa membuat candu, kelabu, berlalu

Celaka masalalu terjebak di labirin waktu


.....

Dua puluh delapan

Seperti angin segar dimusim kemarau

Lebih banyak menunjukkan rasa dengan diam

Menghirup hidup


Dua puluh delapan

Kelahiran kembali

Bukan lagi tentang trauma dengan pola yang sama


Masalalu merupakan salah satu tempat ngopi rekomendasi versi aku. Berada di Pekayon, Bekasi.

Coffee shop kian menjamur, nama-nama yang menarik membuat aku tergerak untuk menuangkan kata. Memperkaya karya melalui konten "Me, Words, and Coffee Shop." - yang akan aku kembangkan, kesamaan nama-judul tidak terkait kerjasama.

Seringkali kopi dikaitkan dengan kata.

Nantikan coffee shop berikutnya.



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In CERPEN

Sabahat atau pacarmu



Laras bangun terlambat di hari libur ini, terlihat jam weker disampingnya sudah menunjukkan pukul 06.45, tidak berbunyi. Perasaan malas dan kesal meliputi hati dan pikirannya, pagi ini telah mengembalikannya ke dalam nyata. Ia bangun dari tempat tidurnya dan bergegas mengambil handuk lalu mandi.
"Hm.... lagi-lagi mimpiin si Yanti, sudah beberapa hari ini aku mimpiin dia, aku harus melakukan sesuatu." Pikirnya.
"Ya! Ini semua demi persahabatan kita, aku tidak mau seseorang menghancurkan persahabatan yang sudah lama dijalani ini." Tegasnya kembali.

Dari luar kamar terdengar suara seseorang menyiapkan makanan.  Selesai mandi dan berpakaian Laras bergegas mengambil topi kesayangannya, dan menutup pintu kamarnya. Melangkah menuju meja makan.
"Ma, Laras mau ke rumah Yanti." Teriak Laras yang sudah berada dibagasi, duduk diatas sepeda kesayangannya dan dipakainya topi yang sedari tadi dibawa saat sarapan.
"Teet... teet... teeettt...."
"Laras? Ada apa kesini?." Tanya Yanti heran.
"Mau ngomong sesuatu, boleh?"
"Boleh, cuma sebenarnya aku mau pergi sama..." Terangnya yang sudah berpakaian rapi.
"El maksud kamu?" Potong dan tebak Laras
"Iya."
Yanti mempersilahkan Laras untuk masuk dan duduk.
"Mau minum apa?"
"Gak usah, katanya mau pergi. Jadi aku langsung aja."
"Mau ngomong apa sih?."
"Kenapa kamu udah berapa bulam ini gak ikut kumpul bareng kita?."
"Hm...."
"Jawab dong, kenapa? apa karena El?."
"Bukan."
"Terus?, kamu berubah semenjak pacaran sama dia. Dan jujur aja aku sama anak-anak yang lain gak suka sama dia."
"Oke, tapi bukan karena dia."
"Apa alasan kamu kalo bukan karena dia? El berpengaruh buruk buat kamu."
"Tapi dia cinta dan sayang sama aku."
"Cinta? Sayang? El gak sebaik yang kamu pikir."
"Jangan pernag jelek-jelekin dia!."
"Kenapa? Itu benar kan?."
"Kamu gak kenal dia, jadi gak usah sok tahu!."
"Sok tahu? Ti, itu fakta kan? Temen aku bilang dia cuma mau pacaran sama cewek yang cantik, cara pikir dia jelek dan cara dia kalo ngomong tuh keliatan sandiwaranya."

Suasana berlangsung hening seketika, sejenak mereka menghela napas yang panjang."
"Sekarang aku tanya, apa kamu sayang sama dia? Apa kamu cinta?."
"Aku sayang sama dia."
"Tapi kamu gak cinta kan?."
"Itu...."
"Itu benar kan? Ti, aku kenal kamu, aku tau apa yang kamu suka dan apa yang gak kamu suka. Termasuk dalam urusan cowok seperti ini, bahkan sampe sekaranc kamu belum cinta kan sama El?."
"Aku mencoba mencintai dia."
"Ngga ti, kamu gak akan pernah bisa. Kamu masih cinta sama Putra, dia kan yang kamu suka selama ini?."
"Ya... ya..  Bener sih. Tapi aku juga berusaha ngelupain Putra kok." Jawabnya sedikit meragu.
"Berusaha? Lupain Putra? Bisa? Aku tau sifat kamu. Selama ini kamu gonta-ganti pacar, apa kamu bisa cinta sama mereka? Engga kan? Bahkan ngebayangin dia terus dan kalo ketemy Putra kamu masih degdegan."
"Tapi...."
"Udahlah gak usah ngelak lagi. Kenapa sih kamu lebih memilih El dibanding kita? Kita sahabatan udah 4tahun, sementara hubungan kamu sama El aja belum ada setengah tahun dan kamu lebih belain dia?."
"Terserah kamu mau ngomong apa, yang jelas aku sayang sama El."
"Tapi kamu gak tau kalo dia cinta sama kamu itu palsu."
"Maksud kamu?."
"Iya, cinta palsu. Dia ngaku cinta dengan kata-kata pengakuan dan kehangatan yang sebegitunya tapi hatinya penuh kebencian dan kepura-puraan. Apa kamu tau siapa yang dicintainya selama ini?."
"Engga. Lagian apa buktinya?."
"Bukti? Kamu harusnya bisa liat semua perilakunya, cara bicaranya. Kalo emang dia cinta sama kamu apa buktinya? Kamu aja mencoba mencintai dia tapi hati kamu tetap cinta Putra. Bisa aja kan El juga kayak gitu?."
"Enggak mungkinlah!."
"Kamu bilang gak mungkin karena udah kena virus cinta aja, jadi gak bisa liat mana baik dan buruk."
"Cukup! Kalo kalian emang gak suka sama El itu terserah kalian."
"Aku cuma gak mau kamu kenapa-napa ti, aku ini sahabat kamu. Kita semua sayang sama kamu."

Suasana semakin panas, emosi Laras dan Yanti meninggi. Yanti bingung dengan kata-kata Laras, ucapan-ucapan itu mengganggu pikirannya namun berlalu cepat, Yanti menanggap itu hanya angin lalu, ia tahu Laras dan teman-teman yang lain tidak menyukai El.
Terdengar suara motor menghampiri rumah Yanti, suara motor yang tak asing. Yanti beranjak dari duduknya dan melihat siapa yang datang. Dilihatnya El sudah berdiri dibalik pagar rumah.

"Kamu mau pergi sekarang?." Tanya Laras yang sudah berada dibelakangnya.
"Kali kamu gak keberatan untuk pulang, mungkin iya." Jawab Yanti hati-hati.
"Oke, baik. Aku cuma mau kamu percaya sama aku."
"Percaya apa? Tentang omongan kamu tadi? Aku rasa itu gak mungkin dan sulit dipercaya." Tegasnya
"Aku denger semua percakapan El waktu kumpul sama teman-temannta. Kamu tau? Berapa bulan kamu gak kumpul sama kita itu juga semua karena El. El sengaja ngelarang kamu untuk bertemu sama kita. Padahal waktu kamu pacaran sama Qiki, Qiki gak pernah ngelaranf kamu untuk kumpul bareng kita. Sekarang terserah kamu, mau lebih percaya sama dia atau kita. Aku pulang dulu, dah." Ucap Laras lalu pergi.

El yang berdiri disana merasa heran, tatapan Laras saat melewatinya begitu tajam, terlihat ketidaksukaan diwajahnya. Tak lama Yanti pun pergi bersama El dengan sepeda motor yang dibawanya.
Malam tiba, Laras berbaring diranjangnya melihat langit-langit kamarnya, berusaha memejamkan mata, hanya Yanti yang seharian ini ada dibenaknya. Ia merasa gelisah hingga membutuhkan waktu lama untuk terlelap.

***

"Ras, maaf ya. Kalo beberapa bulan ini aku berubah, aku gak nyangka semua omongan kamu benar. El memang pura-pura. Aku malu udah gak percaya sama kamu. Aku harap kalian mau memaafkan dan tetap menerima aku sebagai sahabat kalian. Best friend forever." 
Sms itu langsung dibaca Laras saat terbangun dari tidurnya, dibacanya dalam hati sambil melihat foto mereka bersama teman-teman yang lain yang ada di dinding kamarnya dengan senyuman yang menghiasi wajahnya yang manis, "Best friend forever." Ucapnya dalam hati.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In CERPEN

Menang Hasil Curi, Jujur Dapat Kalah


Cukup lama kami berdiri didepan sekolah menunggu mobil angkutan umum yang sudah di carter oleh salah satu guru untuk membawa kami ke lokasi LCCM (Lomba Cerdas Cermat Matematika). Kami merasa senang, terutama aku yang akhirnya bisa mengikuti lomba terkait dengan mata pelajaran yang ku suka.

Rasa senang itu tentu diikuti dengan perasaan khawatir, takut. Satu tahun yang lalu sekolah kami mengikuti lomba yang sama namun tidak masuk dalam cerdas cermat, gugur di seleksi awal. "Apakah kami akan mengalami nasib yang sama seperti kakak kelasku?" Tanya ku dalam hati. Pertanyaan ini mungkin dipertanyakan juga pada teman-teman yang lain. Melihat ketegangan dan seolah mendengar hati kami, salah satu guru yang menemani menenangkan kekhawatiran kami.

Kami sampai sebelum waktunya, detak jantung berdebar semakin kencang, tubuhku gemetar, keringat dingin pun mulai bercucuran. Melihat para peserta dari sekolah lain yang tampak tenang tambah membuat yakin bahwa kami tidak akan menang. Pesimis yang terlalu berlebihan.

"Perlombaan LCCM tingkat VIII Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas saya buka!." Dengan lantang dibacakan oleh pembawa acara mengakhiri pembukaan dan sambutan oleh ketua departemen sebelumnya.

Sekolah kami mendaftarkan 2 tim yang masing-masing terdiri dari 4 orang. Kelompok dengan kode F2020 terdiri dari Icha, Indy, Nawa yaitu aku, dan Anah, sementara kode F2021 ada Yusan, Oliv, Nurul, dan Esa.

Peserta duduk dengan kelompok masing-masing, beberapa kertas buram dan lembar kertas jawaban sudah diterima, disusul dengan 1 paket soal dalam amplop cokelat yang didepannya terdapat persyaratan perlombaan. Kami belum boleh membuka dan melihat soalnya hingga panitia menghitung 1... 2... 3... Yang menjadi tanda bahwa perlombaan sudah dimulai.

Kami membagi tugas, isi amplop itu terdiri dari 4 lembar, kebetulan sesuai dengan jumlah per tim. Perasaanku yang semrawut ini harus ku lawan, otak dan tanganku harus cepat berhitung, fokus. "Jangan panik, jangan panik." Gumamku, tahun lalu sekolah kami tidak masuk ke babak berikutnya karena panik yang berlebihan.

Beberapa soal sudah ku isi, sejenak ku memalingkan wajah melihat kelompok lain yang tampak nyaman dengan soal yang sama. Berlalu begitu cepat, waktu semakin sempit, perasaan tenang pun menjadi panik kembali, ada beberapa soal yang belum kami isi, panitia sudah menghitung mundur dari angka 10, menghentikan perlombaan dan segara mengambil kertas jawaban seluruh peserta. Setelah itu aku, Icha, Indy, dan Anah bergabung dengan kelompok yang satunya lagi, begitupun  sekolah-sekolah yang lain.

"Kita gak ngisi satu nomor." Ucap kelompok dari sekolah lain yang tidak jauh dari keberadaan kami.
"Kita sih ke isi semua." Sahut kelompok mereka yang lain.
"Kita juga gak ngisi satu nomor." Ucap Oliv, kami serentak menoleh kearahnya, anggota kelompok yang lain mengangguk, mengiyakannya.
"Kita malah sembilan nomor gak diisi." Anah menimpali, perasaan kami semakin tidak yakin.
"Mudah-mudahan kita masuk ke cerdas cermat besok." Ungkap Icha dengan sedikit percaya diri, meski wajahnya juga memasang kekhawatiran yang sama.
"Aamiin!." Jawab kami serentak.
"Ya semoga aja semua jawaban yang kita kerjain benar semua." Tambah Indy meyakinkan.
"Iya benar... benar...." Jawab Icha dengan nada khasnya.

Panitia hanya membutuhkan 10 menit untuk memeriksa jawaban, kemudian segera mengumumkan. Hatiku terus berdoa, mungkin mereka juga. Kami sendiri dari tingkat Sekolah Menengah Pertama, jumlah seluruh tim tingkat kami terdiri dari 21 kelompok, dan hanya menyisakan 9 kelompok untuk lanjut ke tahap cerdas cermat esok hari.

"Nilai tertinggi dari tingkat Sekolah Menengah Pertama adalah F2001, dibawahnya ada F2013, F2019, F2005, F2020...." Belum selesai panitia genap menyebutkan 9 kelompok, kami sudah kesenangan dan berteriak "ALHAMDULILLAH."

Terik matahari seolah mendukung acara ini, posisinya yang tepat diatas kepala dengan cahayanya yang silau semakin membuat semangat membara, begitu juga dengan tim ku, dengan terpilihnya kami, semangat itu kembali muncul. Pulang dengan hati senang dan penuh senyuman, meski tim Yusan, Oliv, Nurul, dan Esa tidak terpilih, tetapi mereka tentulah senang dengan masuknya tim aku.

Berbulan-bulan kami tidak ikut mata pelajaran full di sekolah untuk mempersiapkan semua ini, jarang bertemu teman sekelas, dan pulang lebih sore dari teman-teman yang lain.

"Anah gak apa-apa ya gak ikut cerdas cermat besok? Anah kan bisa ikut lagi tahun depan, sementara Icha, Indy, dan Nawa hanya memiliki kesempatan ini sekarang, mengingat Anah masih kelas VIII , sementara mereka sudah kelas IX." Ucap Bunda dengan penuh hati-hati agar tidak mengecewakan Anah. Bunda adalah panggilan untuk salah satu guru matematika kami, cerdas cermat besok hanya terdiri dari 3 orang per kelompoknya.
"Iya Bunda, gapapa kok." Ucap Anah sambil tersenyum, aku tidak tahu apakah hatinya terluka. "Anah percaya sama kakak-kakak semua." Tambahnya lagi. Kami tersenyum penuh haru. Keputusan ini langsung disampaikan dalam perjalanan pulang, mungkin 3 guru matematika kami dan 1 bapak kesiswaan sudah merembukannya tanpa sepengetahuan kami tadi.

***

Anah, Yusan, Oliv, Nurul, dan Esa tetap pergi, mereka akan menjadi suporter kami, juga bapak-bapak guru kami, hari ini kami tidak didampingi dengan guru-guru matematika kami, bunda harus mengajar.

Tiitt... Tiiit... Nada pesan masuk, suara itu dari handphone Indy yang berisi:
"Maaf, Bu Diah kali ini gak bisa hadir dikarenakan ada halangan, Ibu cuma pesan jangan memandang lawan kita, itu akan membuyarkan pikiran kalian. Walaupun Ibu gak hadir tapi doa Ibu terus untuk kalian, semoga menang. Kalau nanti sudah selesai sms balik Ibu ya." Indy membacakannya untuk kami, Bu Diah adalah guru matematika kami dikelas IX ini.

Indy mewakili kami, mengambil gulungan kertas yang berisi nomor urut perlombaan, kami mendapat gelombang 3 regu B, saingan kami adalah mereka-mereka yang kemarin mendapat nilai tertinggi.

Karena kami mendapat giliran terakhir, beruntung bisa belajar dari soal-soal yang keluar pada gelombang sebelumnya. Gelombang pertama selesai, kami tersentak kaget bahwa kami maju lebih dulu, kecewa kenapa terjadi perubahan tanpa pemberitahuan sebelumnya, dengan begitu kami tetap maju, mau tidak mau. Kami berhasil menjawab di tipe soal pertama, nilai kami terlihat baik. Berikutnya soal rebutan, namun hasil kami jauh dibawah regu A dan C.

"Wa, liat ke regu A deh. Main curang tau." Bisik Indy ke telingaku, posisi duduk ku di tengah antara Indy dan Icha.
Aku menoleh.
"Coba liat ke suporternya juga." Tambahnya

Aku menoleh ke arah yang dimaksud, benar saja beberapa suporternya memegang ponsel, seperti mencari dan menghitung sesuatu. Lalu hasilnya digerakkan dengan tangan secara manis sekali, tidak akan ada yang memerhatikan cara main mereka, suporter regu A paling banyak di antara suporter yang lain. Regu A bertubi-tubi menjawab dengan cepat dan tepat, aku dan Indy sudah kepalang pasrah, selain juga begitu sangat kesal dan kecewa.

Matahari lagi-lagi seolah merasakan yang sama, jika kemarin dia bersinar sangat membara, hari ini perlahan awan biru kehitaman berkumpul, hingga menutup matahari, air pun turun sangat deras.

Dengan hati yang sedih, kami memutuskan langsung pergi, tidak kuasa melihat sampai akhir. Hasil akhirnya nilai tertinggi dari 3 gelombang tadi yang akan di adu kembali, dan pemenangnya akan mewakili kota kami di Ibu Kota nanti.

"Kenapa harus orang curang yang menang?." Pertanyaan itu terus menghantui ku. Hingga sampai dirumah pertanyaan itu terjawab oleh kedua orangtua ku.
"Biarin aja, yang penting kita jujur, meski kalah. Hasilnya memang menyakitkan sekarang, tapi di masa depan nanti akan tahu seberapa menakjubkannya ketika orang-orang mempertahankan sebuah kejujuran dalam kehidupan diri seseorang."

Benar, untuk apa menang kalau itu hasil curian, lebih mulia kalah karena kejujuran.

"Kita bisa mengikuti perlombaan di Sekolah Menengah Atas nanti, jangan bersedih. Terus berusaha, belajar dan lakukan yang terbaik." Pesan singkat dari Bu Diah sampai kepada kami semua.

Mengingat kembali perkataan itu, hati ku cukup lega dan tenang. Bukankah kekalahan adalah kemenangan yang tertunda? Mungkin suatu saat nanti aku bisa memenangkan satu dua perlombaan yang tak terduga, dari segala bidang yang aku sukai. Percayalah.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

Aku (Simu)

Foto saya
: Tuang kata, ukir makna, pena menari, acak akal, kaya-karya. "Kekuranganku adalah berbicara, maka dari itu aku menulis" - Aku (Simu)

Comments