In CATATAN SEMASA PENDIDIKAN

Membaca Ekstensif

Membaca Ekstensif adalah suatu kegiatan dengan melihat, mengerti, melisankan apa yang tertulis secra luas.

Fakta dan opini

a. Fakta adalah kenyataan yang dapat didengar, dilihat, atau dirasa, jadi fakta dapat berupa benda. Bunyi pendapat yang dikemukakan orang yang sempat kita dengar.

b. Opini adalah pendapat yang dikemukakan oleh penulis atau pendapat umum yang sudah dianggap pendapat semua orang.

Contoh: Mantan presiden Roh Tae-woo dari 7 pengusaha kakap korea selatan dituduh terlibat kasus penyuapan dalam skandal korupsi yang sudah dianggap pendapat semua orang.




Bahasa Indonesia (X.1)

Selasa,

23 September 2008.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In CATATAN SEMASA PENDIDIKAN

Membaca Cepat

Membaca cepat adalah kegiatan melambangkan tulisan dengan menggunakan pengertian yang tepat dan dilakukan dengan kecepatan yang tinggi.


Tujuan membaca cepat adalah mendapatkan informasi untuk memahami intisari bacaan dengan melompati bagian yang tidak penting.


Manfaat membaca cepat

1. Dapat membaca kembali secara cepat wacana yang telah dibaca

2. Kesempatan membaca lebih luwes & fleksibel

3. Memudahkan membaca survey

4. Memperoleh pengetahuan yang luas dari bahan yang dibaca


Jenis-jenis Membaca Cepat

a. Membaca skimming 

    Membaca dengan cara melompati fakta dan detail sambil berkonsentrasi pada pengungkapan ide-ide pokok.

b. Membaca scanning

    Teknik membaca untuk mendapatkan informasi tertentu atau yang dikehendaki tanpa memperdulikan informasi lainnya. Biasanya pembaca mencari tempat dimana letak informasinya yang diinginkan.

Contoh: membaca grafik, tabel, indeks. buku telepon


Langkah-langkah Membaca Cepat

1. tentukan terlebih dahulu apa yang kita baca

2. Saat membaca mata bergerak diatas kecepatan normal sambil mengingat apa yang kita baca

3. Pergunakanlah petunjuk-petunjuk yang digunakan dalam buku

4. Tetap berpegang pada masalah yang kita cari

5. Berhentilah sesaat setelah menentukan informasi yang kita cari


Membaca Cepat akan Berhasil:

1. Melaju terus

2. Kepercayaan akan diri sendiri dalam memahami bacaan

3. Latihan yang intensif

4. Mengikuti peraturan membaca cepat


Hambatan Membaca Cepat

1. Vokalisasi

2. Gerakan Bibir

3. Gerakan Kepala

4. Menunjukkan dengan jari

5. Regresi (pembacaan ulang balik)


Bagan proses membaca cepat & efektif 〉Ragam membaca awal 〉 Menghilangkan teknik atau mengembangkan membaca 〉 Latihan 〉 Meningkatkan sifat kritis 〉 Membaca cepat dan efektif.



Bahasa Indonesia (X.1)

Kamis,

18 Sepetember 2008.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In CATATAN SEMASA PENDIDIKAN

Menceritakan Pengalaman Pribadi

         Menceritakan pengalaman pribadi merupakan salah satu nbagian dalam kegiatan komunikasi sehari-hari. Ketika bertemu dengan teman atau sahabat kita sering terdorong untuk menceritakan pengalaman terutama yang menarik dan lucu.

Cara menyampaikan pengalaman secara pribadi secara lisan

1. Hal yang diceritakan tidak menyinggung perasaan orang lain atau mempermalukan diri sendiri

2. Sampaikan semuanya secara jujur, apa adanya

3.Gunakan bahasa yang mudah dimengerti orang, menarik, dan akrab

4. Ceritakan dalam tempo yang lambat, jangan terburu-buru

5. Ceritakan dengan penuh semangat agar lawan bicara mau memperhatikan dengan sungguh-sungguh

6. Pilihlah ekspresi yang memikat


Menceritakan Hal Lucu

Banyak lelucon yang kita dengar dalam kehidupan sehari-hari, lelucon memberikan kesegaran dan kita dapat memandang kehidupan ini lebih menyenangkan. Cerita lelucon sudah ada sejak kesastraan lama dengan menggunakan huruf arab melayu.

Cerita-cerita ini adalah:

- Pak Belalang: Orang yang selalu mujur secara kebetulan

- Si Luncai

- Lebai Malang: Menceritakan kemalangan akibat perhitungan yang berlebih-lebihan

- Pak Kadok: Hampir sama dengan Lebai Malang

- Pak Pandir

Cerita yang bertaraf internasional yaitu Abu Nawas, terutama dari negara-negara islam. Dari perwayangan yang dikenal yaitu: tokoh gareng, petruk, dan semar.


Cerita jenaka pada saat itu, dinamakan anekdot yaitu sebuah cerita singkat mengenai peristiwa menarik dan menyenangkan baik yang dialami orang lain atau yang dialami diri sendiri.



Bahasa Indonesia (X.1)

Kamis,

4 September 2008.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In CATATAN SEMASA PENDIDIKAN

PUISI

 Mengidentifikasi unsur-unsur puisi


PUISI

A. Pengertian

        Puisi adalah bentuk karya sastra yang menggunakan kata-kata yang indah dan makna. Keindahan sebuah puisi disebabkan oleh diksi, majas, rima, dan irama yang terkandung dalam karya sastra.

Adapun kekayaan makna yang terkandung dalam puisi dikarenakan oleh pemadatan segala unsur bahasa. Bahasa yang digunakan dalam puisi berbeda dengan yang digunakan sehari-hari. Puisi menggunakan bahasa yang ringkas, namun maknanya sangat kaya. Kata-kata yang digunakannya adalah kata-kata konotatif, yang mengandung banyak penafsiran dan pengertian.

Berdasarkan hal itu, dapatlah dirumuskan ciri-ciri puisi sebagai:

1. Dalam puisi terdapat pemadatan segala unsur kekuatan bahasa

2. Dalam penyusunannya, unsur-unsur bahasa itu dirapikan, diperbagus, dan diatur sebaik-baiknya dengan memperhatikan irama dan bunyi

3. Puisi berisikan ungkapan pikiran dan perasaan penyair yang berdasarkan pengalaman dan bersifat imajinatif.

4. Bahasa yang dipergunakaannya bersifat konotatif

5. Pusisi di bentuk oleh struktur fisik (tifografi), diksi, majas, rima, dan irama, serta struktur batin (tema, amanat, perasaan, nada, dan suasana puisi)


B. Unsur-unsur puisi

        Secara garis besar, unsur-unsur puisi terbagi ke dalam dua macam, yakni struktur fisik dan struktur batin. Berikut adalah uraiannya yang banyak penulis petik dari teori dan spresiasi puisi, Herman J. Waluyo (1995).

1. Unsur fisik

    Unsur fisik meliputi hal-hal berikut:

    a. Diksi (pemilihan kata)

        Penyair sangat cermat dalam memilih kata-kata. Kata-kata yang ditulis sangat dipertimbangkan maknanya, komposisi bunyi dalam rima dan irama, kedudukan kata itu dalam konteks atau dalam hubungan dengan kata yang lain, serta kedudukan kata dalam keseluruhan puisi itu. Oleh karena itu, disamping memiliki kata yang tepat, penyair juga mempertimbangkan urutan katanya dan kekuatan atau daya magis dari kata-kata tersebut. Kata-kata diberi makna baru dan tidak bermakna diberi makna menurut kehendak penyair.

Karena begitu pentingnya kata-kata dalam puisi, maka bunyi kata juga harus dipertimbangkan secara cermat dalam pemilihannya. Kerena pemilihan kata mempertimbangkan berbagai aspek estesis, maka kata-kata yang sudah dipilih oleh penyair untuk puisinya bersifat absolut dan tidak bisa diganti dengan padan katanya sekalipun  maknanya itu tidak berbeda. Hendaknya disadari pula bahwa kata-kata dalam puisi bersifat konotatif. Makna dari kata-kata yang dipilih hendaknya bersifat puitis, yang mempunyai efek keindahan dan berbeda dengan kata-kata yang biasa kita pakai sehari-hari.

    b. Pengimajian

            Atau citraan yang berkaitan dengan panca indera. Pengimajian dapat didefinisikan sebagai kata atau susunan kata yang dapat mengungkapkan pengalaman imajinasi. Dengan daya imajinasi yang diciptakan penyair, maka pada kata-kata puisi itu seolah-olah tercipta sesuatu yang dapat didengar, dilihat, ataupun dirasakan pembacanya. Perhatikan cuplikan puisi Chairil Anwar berikut;

Tuhanku

aku hilang bentuk

remuk

Tuhanku

aku mengembara di negara asing

Tuhanku

dipintu-Mu aku mengetuk

aku tidak bisa berpaling

                                        (Doa, 1943)


Penyair dalam puisi itu menghadapi bayangan kritis iman. Kemudian penyair meyakini bahwa tidak ada jalan lain baginya kecuali kembali kepada Tuhan, ke jalan Tuhan. Dengan pengimajian yang cukup jelas itu, pembaca seakan-akan ikut menyadari dosa-dosanya. Kemudian pembaca merasa yakin bahwa hanya dengan mengikuti jalan Tuhan ia bisa selamat.

    c. Kata kongret

            Untuk membangkitkan imaji (daya bayangan) pembaca maka kata-kata harus diperkongret. Jika penyair mahir memperkonkret kata-kata maka pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasa apa yang dilukiskan oleh penyair. Jika imaji pembaca merupakan akibat dari pengimajian yang diciptakan penyair, maka kata konkret merupakan sebab terjadinya pengimajian itu.

    d. Bahasa figuratif (majas) dalam puisi 

        Contoh pengemis, gembel = gadis kecil berkaleng kecil.

    e. Rima / Ritma (pengulangan bunyi dalam puisi)

        Ritma (pengulangan kata, frase, atau kalimat dalam bait-bait puisi).

    f. Tata wajah (tipografi) 

        Dalam bentuk bait - Dunia pengemis = pulang kebawah jembatan melulur sosok.


2. Unsur Batin

    a. Tema dan amanat

    b. Perasaan

    c. Nada dan suasana


Bahasa Figuratif (majas) 

Figurative language ialah bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara pemajasan yakni secara tidak langsung mengungkapkan makna. Disamping itu, majas membantu pengarang menghadirkan kesan puitis melalui pemilihan bunyi yang dapat menimbulkan imajinasi di dalam diri pembaca.

Berikut adalah contoh-contohnya:

1. Perbandingan

    Majas perbandingan atau perumpamaan (simile) adalah pribahasa kiasan yang membandingkan atau menyamakan sesuatu dengan yang lain dengan menggunakan kata pembanding. Seperti: bak, semisal seperti: serupa dan kata pembanding yang lain.

Contoh:

Nanar aku, gila sasar

Sayang berulang padamu jua

Engkau pelik menarik ingin

Serupa dara dibalik Tirai

2. Metafora

    Metafora adalah majas perbandingan yang diungkapkan secara singkat dan padat.

Contoh:

Aku ini binatang jalang

dari kumpulan yang terbuang

3. Alegori

    Alegori adalah majas yang menghiaskan sesuatu dengan yang lain. Contoh: Sanusi Pane menyimbolkan Ki Hajar Dewantara dengan kuntum bunga teratai dengan maksud menautkan ciri-ciri bunga teratai dengan gagasan pikiran atau cita-cita tokoh pendidikan tersebut.

Teratai

Ki Hajar Dewantara

Dalam kebun di tanah airku

Tumbuh sekuntum bunga teratai

Tersembunyi kembang indah permai

Tidak terlihat orang yang lalu

Akarnya tumbuh dihati dunia

Daun bersemi laksmi mengarang

Biarpun ia diabaikan orang

Sejora kembang gemilang mulia

4. Personifikasi

    Personifikasi adalah majas yang membandingkan wujud atau sifat manusia kepada benda atau konsep abstrak.

Contoh: Asal

Apakah ia sebilah belati yang menancap secara gaib

Tanpa aku bisa melihat sehingga kebodohanku

Terperanjat ataukah ia tangan kabut yang nakal

Yang telah mencekik lehernya

Sehingga tak satupun tangan kami yang bisa menghalangimu


Ritma / Rima

Rima adalah pengulangan bunti dalam puisi. Rima berfungsi untuk membentuk musikalitas atau orientasi. Dengan adanya rima itulah, efek bunyi yang dikehendaki penyair semakin indah dan makna yang ditimbulkannya pun lebih kuat. Sedangkan ritma adalah pengulangan kata, frase atau kalimat dalam bait-bait puisi.


Makna Konotasi

Makna konotasi adalah makna yang mengandung banyak penafsiran dan pengertian. Makna konotatif sebenarnya adalah makna denotasi yang telah mengalami perubahan.

Makna konotasi sering pula disebut makna kias atau makna kontekstual.

Contoh:

Kiri - Denotasi: berisi lawan dari kanan

* Tangan kiri Amran terkilir

        - Konotasi: idiologi aliran politik

* Partai beraliran kiri dilarang di Indonesia


Tipografi (tata wajah): dalam bentuk bait.



Bahasa Indonesia (X.1)

Sabtu,

16 Agustus 2008.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In CATATAN SEMASA PENDIDIKAN

Mengidentifikasi Unsur Sastra (Prosa)

Prosa

    Prosa adalah karya sastra yang disusun dalam bentuk cerita secara bebas yang tidak terikat oleh rima dan irama. Prosa terdiri atas beberapa macam yakni:

a. Novel: Karya imajinatif yang memisahkan sisi utuh atas problematika kehidupan seseorang atau beberapa orang tokoh.

b. Cerpen: Karangan pendek yang berbentuk prosa.

c. Dongeng: Cerita lama yang hidup dan berkembang dalam masyarakat lama.


Cerita Daerah

    Cerita daerah adalah cerita yang berasal dari rakyat masing-masing daerah.

Misalnya:

- Puteri hijau dari Aceh

- Lok sinaga dari Kalimantan

- Malin kundang dari Sumatera Barat

- Sangkuriang dari Jawa Barat

- Roro Jonggrang dari Jawa Tengah

    Ciri-ciri dari cerita rakyat / daerah:

1. Istana sentris: karya sastra yang dibuat dari dan untuk istana

2. Anonim: tidak diketahui pengarangnya (milik bersama)

3. Statis: bentuk dan isi tidak mudah menerima pengaruh luar

4. Bahasanya romantis dan alusia (menggunakan perumpamaan-perumpamaan)

5. Disampaikan dari mulut ke mulut (lisan)

6. Tema yang digunakan biasanya berhubungan dengan perjuangan baik dan buruk, pendidikan, moral, keagungan raja-raja, kepahlawanan dll.

7. Bersifat prologis: mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan logika umum


Unsur-unsur intrinsik cerita rakyat / daerah

1. Tema: merupakan inti adat ide dasar sebuah cerita

2. Alur: sambung sinambung jalannya cerita yang terbentuk oleh hubungan sebab akibat. Alur terbagi menjadi 3 bagian:

    a. Alur konvensional: alur yang menceritakan dari awal cerita sampai akhir cerita (alur maju - a-z)

    b. Alur inkonvensional: alur yang dimulai dari cerita masa lalu ke masa sekarang yang didalamnya

        terdapat sorot baik / flash back (alur mundur - z-a)

    c. Alur campuran: gabungan dari alur konvensional dan inkonvensional. Didalam alur terdapat 

        konflik (konflik batin dan fisik)

3. Latar / Setting: keadaan tempat, waktu, dan budaya didalam cerita. Setting dibagi menjadi beberapa bagian yaitu:

    a. Setting material: menunjukkan tempat

    b. Setting sosial: menunjukkan lingkungan sosial masyarakat (desa atau kota)

    c. Setting waktu/suasana: menunjukkan waktu / suasana berlangsung suatu cerita

    d. Setting budaya: kebudayaan yang terdapat dalam cerita

4. Penokohan / perwatakan

    adalah cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan karakter-karakter tokoh dalam cerita. 

    Penokohan terbagi menjadi 3 yaitu:

    a. Tokoh protagonis: tokoh utama

    b. Tokoh antagonis: tokoh lawan

    c. Tokoh tritagonis: tokoh bawahan / tokoh pembantu

5. Amanat

    merupakan ajaran moral atau pesan yang hendak disampaikan kepada pembaca melalui karyanya/


Unsur-unsur ekstrinsik

1. Nilai moral: nilai yang berisi ajaran baik buruknya suatu tingkah laku / perbuatan

2. Nilai agama: nilai yang berisi masalah pokok dalam kehidupan keagamaan yang bersifat suci, sehingga dijadikan pedoman bagi tingkah laku keagamaan warga yang bersangkutan

3. Nilai budaya: niali yang berisi masalah dasar yang sangat penting dan bernilai dalam kehidupan budaya manusia (berkait dengan pemikiran, budaya, kebiasaan, dan hasil karya cipta manusia)


Contoh

Cerita daerah Sumatera Barat - Malin Kundang

A. Unsur intrinsik

    1. Tema: kedurhakaan

    2. Alur: konvensional

        konflik: Malin tidak mengakui ibunya sebagai orangtuanya

    3. Penokohan: 

        Protagonis: Ibu Malin Kundang

        Antagonis: Malin Kundang

        Tritagonis: Nakoda, anak buah Nakoda, penduduk kampung, istri Malin Kundang

    4. Setting:

        Setting material: pelabuhan, laut, rumah Malin

        Setting sosial: Masyarakat desa / kampung

        Setting budaya: budaya Minangkabau

    5. Amanat: janganlah durhaka kepada orangtua kita terutama ibu.

B. Unsur-unsur ekstrinsik

    Nilai moral: sejelek atau seburuk apapun kondisi orangtua kita, tetaplah kita harus sayangi, cintai, dan kita hormati.

    Nilai budaya: budaya menempatkan posisi perempuan / ibu pada posisi tertinggi, yang wajib dicintai, disayangi, dan dihormati.

    Nilai keagamaan: agama mengajarkan untuk menghormati ibu karena surga berada dibawah telapak kaki ibu.



Bahasa Indonesia (X.1)

Selasa,

5 Agustus 2008.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

Aku (Simu)

Foto saya
: Tuang kata, ukir makna, pena menari, acak akal, kaya-karya. "Kekuranganku adalah berbicara, maka dari itu aku menulis" - Aku (Simu)

Comments